Warisan Sepuh Wasiat Rindu Sandaran Sepuh Kaulinan Barudak
Synopsis
SPESIFIKASI BUKU
Harga : Rp 85.000
Ukuran : 18,2 x 25,7 cm
Jumlah Halaman : 121 hal
Ketebalan Buku : 1 cm
ISBN : On Proses
Deskripsi Buku : Kaulinan barudak bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Di balik kesederhanaannya tersimpan cerita, nilai, kebersamaan, kreativitas, ketangkasan, serta kearifan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di masa lalu, halaman rumah, tanah lapang, kebun, dan lingkungan sekitar menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak untuk belajar mengenal kehidupan melalui permainan. Mereka belajar bekerja sama, menghargai teman, mematuhi aturan, menerima kemenangan dan kekalahan, serta membangun keberanian dan rasa tanggung jawab. Namun, perkembangan zaman telah membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak. Permainan tradisional semakin jarang dimainkan, sementara permainan digital dan berbagai bentuk hiburan modern semakin mendominasi. Perubahan tersebut tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk, tetapi menjadi pengingat bahwa warisan budaya perlu terus dikenalkan, dirawat, dan diberi ruang agar tidak terputus dari generasi penerus. Buku ini hadir sebagai sebuah upaya untuk mengingat kembali kaulinan barudak sebagai bagian penting dari warisan budaya, khususnya dalam kehidupan masyarakat Sunda. Kata “sepuh” dalam judul buku ini menjadi simbol dari para pendahulu yang telah mewariskan nilai dan pengalaman, sedangkan “wasiat rindu” menggambarkan kerinduan terhadap suasana masa lalu yang sederhana, akrab, dan penuh kebersamaan. Kaulinan barudak menjadi salah satu sandaran untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masa kini.
REFERENSI :
Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng dan lain-lain. Grafiti Pers. https://books.google.co.id/books?id=dtciAAAAMAAJ
Dermawan, W., Purnama, C., & Mahyudin, E. (2020). Penguatan “Kaulinan Barudak Sunda” sebagai permainan tradisional. JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 7(1), 1–15. https://doi.org/10.21831/jppm.v7i1.28798
Dienaputra, R. D., Machdalena, S., & Kartika, N. (2023). Inventarisasi potensi objek pemajuan kebudayaan di Jawa Barat. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 7(3), 2825. https://doi.org/10.31764/jmm.v7i3.14467
Henriyani, E., Saepul Hidayat, E., Sahadi, S., Syahril, D., & Sunarti, N. (2026). Pelestarian budaya Kaulinan Barudak Sunda di Kampung Bungur Desa Jalatrang Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis. Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 12(1), 7–16. https://doi.org/10.25157/moderat.v12i1.5744
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Mulyani, N., Koswara, D., & Darajat, D. (2024). Relevansi konsep silih asih, silih asah, silih asuh dalam membentuk karakter peserta didik di era Society 5.0. Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 5(4), 838–846. https://doi.org/10.36418/syntaximperatif.v5i4.484
Nurmalasari, S., Nurasyipha, A., Puspita, L., Nuraeni, R., & Nurmahanani, I. (2026). Eksplorasi nilai budaya Kaulinan Barudak Sunda pada permainan Oray-Orayan dalam pembelajaran di SD. Jurnal Kajian Sosial, 9(5), 3788–3800. https://doi.org/10.56338/jks.v9i5.11048
Piaget, J., & Inhelder, B. (1969). Psychology of the child. Basic Books. https://books.google.co.id/books?id=JU1qAAAAMAAJ
Refza Rafza, R. (2023, March 29). Ngabuburit asik bersama Kampoeng Dolanan. Harian Disway.
Rukmana, E. N., CMS, S., & Kusnandar. (2021). Penelitian permainan rakyat: Konten analisis (content analysis) pada website Garuda RISTEK-BRIN. Pustakaloka: Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan, 13(2), 315–340. https://doi.org/10.21154/pustakaloka.v13i2.2880
Sonjaya, A. R., Arifin, Z., & Pratiwi, R. A. (2021). Revitalisasi permainan tradisional sebagai wahana peredam permainan digital pada anak. Jurnal Pendidikan UNIGA.