Kapasitas Pemerintahan Daerah
Synopsis
SPESIFIKASI BUKU
Harga : Rp 225.000
Ukuran : 18 cm x 25 cm
Jumlah Halaman : 339 hal
Ketebalan Buku : 1 cm
ISBN : On Proses
Deskripsi Buku : Buku ajar ini lahir dari sebuah kegelisahan akademis mengenai vitalitas pemerintahan daerah di Indonesia dalam menghadapi lautan tantangan kontemporer. Di tengah arus desentralisasi yang terus bergerak, pertanyaan fundamental bukan lagi sekadar tentang pelimpahan wewenang, melainkan tentang kesiapan dan kemampuan nyata pemerintah daerah dalam mengemban amanah tersebut. Kapasitas, sebuah kata yang sering kali dianggap remeh, sesungguhnya adalah jantung dari efektivitas otonomi daerah. Tanpa kapasitas yang memadai, otonomi hanya akan menjadi seremonial administratif tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Urgensi untuk membedah, memahami, dan akhirnya merumuskan strategi penguatan kapasitas inilah yang menjadi api pendorong utama di balik penyusunan buku ini. Tujuan utama buku ini adalah untuk menyediakan sebuah kerangka analisis yang komprehensif dan sistematis mengenai kapasitas pemerintahan daerah. Kami berupaya menjembatani kesenjangan antara diskursus teoretis yang sering kali abstrak dengan realitas praktis yang dihadapi oleh para aparatur di daerah. Dengan memadukan tinjauan konseptual, landasan hukum, dan analisis multidimensional, buku ini dirancang untuk menjadi panduan bagi mahasiswa, akademisi, praktisi pemerintahan, dan siapa pun yang memiliki minat untuk mendalami seluk-beluk mesin penggerak otonomi daerah. Kami percaya bahwa pemahaman yang mendalam tentang kapasitas adalah langkah pertama yang krusial untuk membangun pemerintahan daerah yang tidak hanya berjalan, tetapi berlari kencang menuju cita-cita pelayanan publik yang prima dan pembangunan yang berkelanjutan.
REFERENSI :
Acemoglu, D., et al. (2012). The environment and directed technical change. American Economic Review, 102(1), 131–166.
Afrizal. (2016). Sosiologi politik: Kontestasi kekuasaan dalam ruang lokal. Rajawali Pers.
Afrizal, T., et al. (2021). The implementation of minimum service standards (SPM) in the health sector in Indonesia: A systematic review. Journal of Public Health in Africa, 12(1).
Agustino, L. (2017). Dasar-dasar kebijakan publik. Alfabeta.
Ahok, B. T. (2016, October 26). Kebijakan e-Musrenbang DKI Jakarta [Video]. YouTube.
Amabile, T. M., et al. (1996). Assessing the work environment for creativity. Academy of Management Journal, 39(5), 1154–1184.
Anas, A. A. (2017). Creative collaboration: 10 kunci sukses Azwar Anas membangun Banyuwangi. Gramedia Pustaka Utama.
Anggraeni, D. (2016). Challenges of mainstreaming climate change adaptation into local development planning in Indonesia. Climate and Development, 8(3), 231–242.
Angraini, R., & Nurbaiti. (2021). The effect of work-life balance and job satisfaction on employee motivation. Journal of Applied Business and Technology, 2(2), 148–156.
Ansell, C., & Bartenberger, M. (2016). Varieties of experimentalism. Ecological Economics, 130, 84–92.
Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.
Ansell, C., & Gash, A. (2012). Stewards, mediators, and catalysts: Toward a model of collaborative leadership. The Innovation Journal, 17(1), 1–21.
Ansell, C., Sørensen, E., & Torfing, J. (2017). Co-creation for innovation in the public sector. Public Management Review, 19(8), 1145–1163.
Ansori, M. (2017). The executive–legislative relationship in Indonesia: Who is more dominant? Journal of Indonesian Legal Studies, 2(2), 175–190.
Antlöv, H., et al. (2016). Village governance, community life, and the 2014 Village Law in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 52(2), 127–153.
Arif, M. (2016). Hutan adat Ammatoa Kajang: Kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam. Pustaka Pelajar.
Arifin, Z., & Magno, N. (2024). Otonomi dan pembangunan daerah: Sebuah kajian teoritis. Advokasi Hukum & Demokrasi, 2(2). https://doi.org/10.61234/ahd.v2i2.72
Armstrong, M., & Baron, A. (2005). Managing performance: Performance management in action. Chartered Institute of Personnel and Development.
Arnstein, S. R. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Institute of Planners, 35(4), 216–224.
Aryanto, D., & Suardana, I. K. (2020). The effect of tapping box implementation on hotel and restaurant tax revenue in Badung Regency. International Research Journal of Management, IT & Social Sciences, 7(3), 1–8.
Askim, J., et al. (2017). Rightsizing local government: A literature review and a research agenda. Local Government Studies, 43(6), 849–870.
Aspinall, E. (2009). Islam and nation: Separatist rebellion in Aceh, Indonesia. Stanford University Press.
Aspinall, E. (2014). Parliament and patronage. Journal of Democracy, 25(4), 96–110.
Aspinall, E., & Berenschot, W. (2019). Democracy for sale: Elections, clientelism, and the state in Indonesia. Cornell University Press.
Aspinall, E., & Fealy, G. (Eds.). (2003). Local power and politics in Indonesia: Decentralisation and democratisation. Institute of Southeast Asian Studies.
Avolio, B. J., & Bass, B. M. (2004). Multifactor leadership questionnaire: Manual and sampler set. Mind Garden.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2019). Sekolah lansia: Wujud negara hadir untuk lanjut usia.
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). (2019). Maturitas penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP).
Bahl, R., & Linn, J. (2014). Fiscal decentralization and development. Edward Elgar Publishing.
Bappenas. (2004). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional.
Bappenas. (2015). Kajian sinkronisasi perencanaan dan penganggaran. Direktorat Otonomi Daerah.
Bappenas. (2021). Praktik baik penurunan stunting di Kabupaten Sumedang. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat.
Bason, C. (2018). Leading public sector innovation: Co-creating for a better society. Policy Press.
Bass, B. M. (1990). From transactional to transformational leadership: Learning to share the vision. Organizational Dynamics, 18(3), 19–31.
Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational leadership. Psychology Press.
Behrend, J. (2011). The struggle for accountability: A case study of political clientelism and citizens’ organizations in Indonesia. Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, 26(1), 58–81.
Bekkers, V., & Homburg, V. (2007). The myths of e-government: Looking beyond the assumptions of a new and better government. The Information Society, 23(5), 373–382.
Berman, E. M., et al. (2016). Human resource management in public service: Paradoxes, processes, and problems. CQ Press.
Bertot, J. C., et al. (2012). Using ICTs to create a culture of transparency: E-government and social media as openness and anti-corruption tools for societies. Government Information Quarterly, 29, S7–S15.
Bird, R. M., & Smart, M. (2016). Intergovernmental fiscal transfers: International lessons for developing countries. World Development, 83, 17–29.
Birchall, S., Bonnett, N., & Kehler, S. (2023). The influence of governance structure on local resilience: Enabling and constraining factors for climate change adaptation in practice. Urban Climate, 47, 101348. https://doi.org/10.1016/j.uclim.2022.101348
Borins, S. (2001). The challenge of innovating in government. In The IBM Center for the Business of Government series.
Bouckaert, G., & Van de Walle, S. (2003). Comparing measures of citizen trust and user satisfaction as indicators of “good governance”: Difficulties in linking trust and satisfaction indicators. International Review of Administrative Sciences, 69(3), 329–343.
Bovaird, T., & Löffler, E. (2003). Evaluating the quality of public governance: Indicators, models and methodologies. International Review of Administrative Sciences, 69(3), 313–328.