Menghidupkan Kembali Masa Lalu - Cerita Dan Tantangan Pelestarian Lima Situs Sejarah di Jawa
Synopsis
SPESIFIKASI BUKU
Harga : Rp 65.000
Ukuran : 18 cm x 25 cm
Jumlah Halaman : 141 hal
Ketebalan Buku : 1 cm
ISBN : On Proses
Deskripsi Buku : Buku ini menghadirkan rangkaian uraian mengenai lima situs sejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan budaya dan peradaban di Pulau Jawa. Melalui pendekatan naratif dan analitis, pembaca diajak menelusuri kisah-kisah yang tersimpan di balik setiap situs, mulai dari konteks kemunculannya, nilai historis yang dikandung, hingga dinamika pelestarian yang dihadapi pada masa kini. Di dalamnya dibahas berbagai tantangan yang muncul dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya, termasuk perubahan sosial, tekanan ekonomi, modernisasi, serta perhatian publik terhadap pelestarian cagar budaya. Buku ini juga menyingkap bagaimana masyarakat, lembaga pemerintah, dan berbagai pihak lainnya berperan dalam menjaga jejak masa lalu agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Harapannya, buku ini dapat menambah wawasan dan menggugah kesadaran pembaca akan pentingnya melestarikan situs-situs sejarah sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa. Semoga kehadiran buku ini memberi kontribusi nyata bagi upaya pelestarian warisan sejarah di Indonesia.
REFERENSI :
Aaker, D. A. (1996). Building strong brands (1st ed.). Free Press.
Abdullah, S. I. N. W., & Lui, E. (2018). Satisfaction drivers and revisit intention of international tourist in Malaysia. Journal of Tourism, Hospitality and Environmental Management, 1–13.
Adil, M., Al Ghaswyneh, O. F. M., & Albkour, A. M. (2013). SERVQUAL and SERVPERF: A review of measures in services marketing research. Global Journal of Management and Business Research: Marketing, 13(6), 64–76.
Ahn, J., & Back, K.-J. (2018). Beyond gambling: Mediating roles of brand experience and attitude. International Journal of Contemporary Hospitality Management. https://doi.org/10.1108/IJCHM-07-2017-0473
Ambarwati, D. R. S., Wulandari, D., Isa, B., Astuti, E. P., & Suardana, I. W. (2019). Museum-based learning for creativity: Indonesian and Malaysian teachers. 316–326.
Ambrose, T. (2012). Museum basics (3rd ed.). Routledge.
Anderson, B. (1983). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. Verso.
Andimuhtarom, I. (2018, June 18). Pengunjung Museum Sangiran Sragen mengeluh tak nyaman. Solopos. http://soloraya.solopos.com/read/20180618/491/922703/pengunjung-museum-sangiran-sragen-mengeluh-tak-nyaman
Anwar, L. A., Suharyono, & Bafadhal, A. S. (2018). Pengaruh dining service quality (DINESERV) terhadap customer satisfaction dan revisit intention. Jurnal Administrasi Bisnis, 58(1), 27–35. http://repository.ub.ac.id/10615/
APJII. (2017). Penetrasi & perilaku pengguna internet Indonesia: Survey 2017. APJII.
Aprilia, F., Kumadji, S., & Kusumawati, A. (2015). Pengaruh word of mouth terhadap minat berkunjung serta dampaknya pada keputusan berkunjung. Jurnal Administrasi Bisnis, 24(1), 1–6.
Aryska, M. (2017). Pengaruh reputasi perusahaan dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien. JOM FISIP, 4(1), 1–15.
Audi, R. (Ed.). (1986). Action, decision, and intention: Studies in the foundations of action theory. Springer Netherlands. https://doi.org/10.1128/AEM.69.5.2540-2547.2003
Ayiek Kustyaningsih, Djono, & Yuniyanto. (2018). Museum Benteng Vredeburg sebagai sumber pembelajaran sejarah. Candi, 18, 58–68.
Badan Pengelola Museum Benteng Vredeburg. (2010). Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta: Panduan koleksi dan diorama. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Badan Pengelola Museum Sangiran. (2021). Profil Museum Sangiran. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Baker, D. A., & Crompton, J. L. (2000). Quality, satisfaction and behavioral intentions. Annals of Tourism Research, 27(3), 785–804. https://doi.org/10.1016/S0160-7383(99)00108-5
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. (2018). Situs Sangiran: Warisan budaya dunia.
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Bonwell, C. C., & Eison, J. A. (1991). Active learning: Creating excitement in the classroom.
Bruner, J. S. (1960). The process of education. Harvard University Press.
Dawis, A. M., et al. (2023). Pengantar metodologi penelitian.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. (1992). Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sebagai Museum Khusus Perjuangan Nasional. Depdikbud.
Deswari, A. (2017). Tipologi bangunan profan berdasarkan relief pada candi-candi di Jawa Timur abad X–XV. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/111880
Dikarsa, A. A., Nurrohimah, A., Ardani, N., Oktavia, V. N., & Zulkarnaen, B. A. (2024). Eksistensi Museum Benteng Vredeburg sebagai sarana pendidikan nasionalisme. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik, 2(2), 122–130. https://doi.org/10.61476/tchp5210
Dinas Kebudayaan DIY. (2017). Sejarah dan fungsi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.
Evitasari, O., Qodariah, L., & Gunawan, R. (2020). Pemanfaatan fungsi museum sebagai sumber belajar sejarah. Estoria, 1(10), 43–56.
Falk, J. H., & Dierking, L. D. (2000). Learning from museums: Visitor experiences and the making of meaning. AltaMira Press.
Fitch, F. J. (2000). Conservation of cultural heritage. Butterworth-Heinemann.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Continuum.
Gardner, J. B., & LaPaglia, P. S. (2006). Public history: Essays from the field. Krieger Publishing.
Gottschalk, L. (1975). Mengerti sejarah. Universitas Indonesia.
Handayani, F. (2023). Local wisdom dalam hakikat preservasi. Proceeding ICIS, 1(1), 133–147.
Hein, G. E. (1998). Learning in the museum. Routledge.
Hernawati. (2008). Analisis potensi Canthik Kyai Raja Mala sebagai aset wisata Museum Radya Pustaka. Universitas Sebelas Maret.
Hidayat, A. (2020). Peran masyarakat dalam pelestarian fosil Sangiran. Jurnal Arkeologi Indonesia, 42(2), 115–128.
Hooper-Greenhill, E. (1999). The educational role of the museum (2nd ed.). Routledge.
Ismaun. (2001). Pengantar sejarah Indonesia baru. Remaja Rosdakarya.
Joesoef, D. (1980). Pidato peresmian pusat informasi dan pengembangan budaya Nusantara di Benteng Vredeburg. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Jordaan, R., & Colless, B. (2004). The Ratu Boko Mantra and the Sailendras. Berkala Arkeologi, 24(1), 56–64.
Kartodirdjo, S. (1992). Pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Gramedia.
Kemdikbud. (2020). Pedoman konservasi benda cagar budaya. Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Kemdikbudristek. (2022). Museum Manusia Purba Sangiran. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/museum/museum-manusia-purba-sangiran/
Khoirotun, A., Fianto, A. Y. A., & Riqqoh, A. K. (2014). Perancangan buku pop-up Museum Sangiran. Jurnal Desain Komunikasi Visual, 2(1), 134–141.
Koenigswald, G. H. R. von. (1938). Early man in Java. Proceedings of the Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, 41(3), 189–197.
Koentjaraningrat. (2002). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning. Prentice Hall.
Kurniawan, A. B. (2024). Social construction and education values based on Sangiran Museum study. Humaniora, 15(2), 121–130. https://doi.org/10.21512/humaniora.v15i2.11870
Kusen, N. (1995). Kompleks Ratu Boko: Latar belakang pemilihan tempat pembangunannya. Berkala Arkeologi, 15(3), 128–132.
Kusmartanti, D., Demartoto, A., & Slamet, Y. (2018). Strategi pelestarian situs Sangiran. University Research Colloquium, 261–274.
Kusuma, V. A., et al. (2020). Radya Pustaka Museum as the preservation of Surakarta cultural heritage. Jurnal Historica, 4(1).
Kuswanto, B. (2019). Pameran interaktif sebagai media edukasi di Museum Sangiran. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 24(3), 233–241.
Kuswanto, H. (2019). Balung Buto dan kearifan lokal masyarakat Sangiran. Jurnal Arkeologi Indonesia, 37(2), 115–128.
Maesaroh, I. (2025). Teknik pengumpulan data dalam penelitian. 10, 315–325.
Marwick, B. (2019). Cultural heritage management and fossil conservation. International Journal of Heritage Studies, 25(4), 367–382.
Mohamad, S., Hasan, R., & Wantu, A. (2024). Optimalisasi peran museum sebagai pelestarian budaya. SOSIOLOGI, 1(3), 197–202.
Moleong, L. J. (2019). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Nugroho, I. (2010). Warisan budaya dan identitas nasional. Pustaka Pelajar.
Nurhajjah, N., Badarudin, B., & Rahmawati, B. F. (2020). Persepsi guru sejarah terhadap Museum NTB. Fajar Historia, 4(1), 14–23.
Nurmalitasari, D. A., & Andina, R. K. (2023). Eksplorasi Candi Ratu Boko dalam etnomatematika. SEMANTIK, 516–527.
Omar, M. (2021). Teknik konservasi preventif dalam pengelolaan museum. Jurnal Konservasi, 9(2), 78–89.
Omar, R. (2021). Preventive conservation in fossil collections. Museum Management and Curatorship, 36(3), 245–261.
Padiatra, A. M. (2015). Melawan wabah: Sejarah Sekolah Dokter Djawa 1851–1899. http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/3268
Padmopuspito, A. S. (1960). Nawa Windu Museum Radya Pustaka. Panitia Paheman Radya Pustaka.
Piaget, J. (1970). Science of education and the psychology of the child. Orion Press.
Prastiani, I., & Subekti, S. (2019). Digitalisasi manuskrip sebagai upaya pelestarian. Jurnal Ilmu Perpustakaan, 6(3), 141–150.
Prihatmoko, A. (2021). Balung Buto: Film dokumenter sebagai media edukasi. Jurnal Komunikasi dan Kebudayaan, 13(1), 101–115.
Purnomo, E. (2020). Edukasi publik konservasi fosil di Museum Sangiran. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah, 10(2), 89–104.
Putri, A. A., et al. (2024). Pengembangan teks laporan penelitian dalam historiografi. Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinier, 8(6).
Rahayu, P. W., & Putranto, A. (2021). Penggunaan epoxy resin dan cyanoacrylate pada konservasi fosil. Naditira Widya, 15(1), 43–58.
Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia modern 1200–2008. Serambi.
Rukmana, I. (2019). Strategi pengelolaan Museum Benteng Vredeburg. Jurnal Tata Kelola Seni, 5(2), 103–119.
Saeroji, A. (2022). Strategi pengembangan Museum Tosan Aji. Jurnal Inovasi Penelitian, 2(9), 3071–3076.
Sangiran BPSMP. (2016). Babak awal sejarah panjang Museum Manusia Purba Sangiran.
Sari, D. S. (2022). Peran Benteng Vredeburg dalam hubungan kekuasaan Belanda–Yogyakarta (Tesis). Universitas Diponegoro.
Septarina, S. W. (2017). Perancangan identitas bangunan PT TWC (Studi kasus: Candi Ratu Boko). Prosiding Seminar Nasional Desain dan Media, 205–214.
Siemens, G. (2005). Connectivism: A learning theory for the digital age. International Journal of Instructional Technology and Distance Learning, 2(1), 3–10.
Sintawati, L., & Sari, D. N. (2023). Analisis potensi dan strategi pengembangan wisata Situs Sangiran. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Smith, L. (2011). The uses of heritage. Routledge.
Soedjono, A. (2017). Peran museum dalam pelestarian benda cagar budaya. Jurnal Konservasi, 1(2), 45–60.
Soekmono. (2005). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia. Kanisius.
Suarez, C. A., & Wolff, E. D. (2020). Advances in fossil conservation techniques. Historical Biology, 32(5), 643–655.
Subroto, A. (2017). Ekskavasi penyelamatan di situs Sangiran. Jurnal Penelitian Arkeologi, 12(1), 77–89.
Sudjana, N. (2004). Pendidikan nonformal. Falah Production.
Sugiyanto, H. (2017). Pameran interaktif dalam meningkatkan minat belajar paleoantropologi. Jurnal Pendidikan Sejarah, 7(1), 55–66.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sukmana, W. J. (2021). Metode penelitian sejarah. Seri Publikasi Pembelajaran.
Supardi. Memahami sumber data penelitian: Primer, sekunder, dan tersier.