Bangga Jadi Indonesia (Membangun Nasionalisme Dari Sekolah Hingga Dunia Digital)
Synopsis
SPESIFIKASI BUKU
Harga : Rp 125.000
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Jumlah Halaman : 287 hal
Ketebalan Buku : 1 cm
ISBN : On Proses
Deskripsi Buku : Buku ini hadir sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat nilai-nilai Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang relevan dengan dinamika zaman, khususnya bagi generasi muda Indonesia di era digital. Nasionalisme hari ini tidak lagi sekadar berbicara tentang perjuangan fisik atau heroisme masa lampau, melainkan tentang bagaimana setiap warga negara mampu mencintai tanah air melalui pikiran, karya, dan tindakan nyata. Dalam konteks inilah, pendidikan kewarganegaraan berperan penting untuk membangun generasi yang cerdas secara intelektual, tangguh secara moral, dan berkarakter kebangsaan yang kuat. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk memahami makna nasionalisme secara utuh mulai dari akar sejarah perjuangan bangsa, nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air, hingga tantangan baru yang dihadirkan oleh dunia digital. Setiap bab disusun secara sistematis, menggabungkan teori, refleksi, dan contoh aktual yang dapat diterapkan di 3 kehidupan sekolah, kampus, maupun masyarakat. Dengan pendekatan yang kontekstual dan aplikatif, buku ini diharapkan menjadi bahan bacaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif bagi siswa, mahasiswa, pendidik, dan pemerhati pendidikan kewarganegaraan. Kita menyadari bahwa nasionalisme generasi muda saat ini tengah diuji oleh derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan derasnya informasi. Namun, justru di tengah tantangan itulah nilai kebangsaan harus semakin diperkuat. Nasionalisme harus hidup dalam dunia digital dalam setiap klik, unggahan, dan interaksi yang mencerminkan cinta terhadap Indonesia. Karena itu, buku ini mencoba menghadirkan pandangan baru tentang “nasionalisme digital”, yaitu semangat kebangsaan yang beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa. Sebagai bangsa besar dengan keberagaman suku, budaya, dan agama, Indonesia memerlukan generasi yang tidak hanya bangga dengan identitasnya, tetapi juga bertanggung jawab menjaga keutuhan dan kemajuan negerinya. Buku ini mengajak setiap pembaca untuk memahami bahwa mencintai Indonesia tidak cukup hanya dalam kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan: belajar dengan sungguh-sungguh, berkarya dengan integritas, dan 4 menggunakan teknologi untuk membawa manfaat bagi sesama. Buku ini juga disusun dalam semangat menuju Indonesia Emas 2045, ketika bangsa ini genap berusia seratus tahun. Cita-cita Indonesia Emas hanya akan tercapai apabila seluruh rakyat, terutama generasi muda, memiliki rasa kebangsaan yang kuat dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan global. Maka, melalui pembelajaran kewarganegaraan yang dinamis dan literasi digital yang cerdas, diharapkan tumbuh generasi Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa nasionalis generasi yang bangga menjadi bagian dari Indonesia dan siap membawa bangsa ini ke masa depan yang gemilang. Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini. Semoga karya ini dapat menjadi panduan, inspirasi, dan motivasi bagi seluruh pembaca dalam menumbuhkan semangat kebangsaan di berbagai lapisan kehidupan. Akhirnya, semoga buku ini dapat menjadi sumbangsih kecil bagi pendidikan karakter kebangsaan dan turut menyalakan api cinta tanah air di hati setiap anak bangsa. Karena sejatinya, nasionalisme bukanlah kenangan masa lalu, melainkan tanggung jawab masa kini dan masa depan.
REFERENSI :
Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall.
Bappenas. (2020). Visi Indonesia 2045: Menuju negara maju, berdaulat, adil, dan makmur. Kementerian PPN/Bappenas.
Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.
Branson, M. S. (1998). The role of civic education. Center for Civic Education.
Bronfenbrenner, U. (1994). Ecological models of human development. In T. Husén & T. N. Postlethwaite (Eds.), International encyclopedia of education (Vol. 3, pp. 1643–1647). Pergamon Press.
Castells, M. (2012). Networks of outrage and hope: Social movements in the internet age. Polity Press.
Dewey, J. (1916). Democracy and education: An introduction to the philosophy of education. Macmillan.
Drucker, P. F. (1985). Innovation and entrepreneurship: Practice and principles. Harper & Row.
Etzkowitz, H., & Leydesdorff, L. (2000). The dynamics of innovation: From national systems and “Mode 2” to a triple helix of university–industry–government relations. Research Policy, 29(2), 109–123.
Florida, R. (2002). The rise of the creative class. Basic Books.
Fuchs, C. (2021). Social media: A critical introduction (3rd ed.). Sage Publications.
Fukuyama, F. (2018). Identity: The demand for dignity and the politics of resentment. Farrar, Straus and Giroux.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.
Habermas, J. (1996). Between facts and norms: Contributions to a discourse theory of law and democracy. MIT Press.
Habibie, B. J. (2010). Habibie & Habibie: The power of ideas. Mizan.
Hobsbawm, E., & Ranger, T. (1983). The invention of tradition. Cambridge University Press.
Howkins, J. (2001). The creative economy: How people make money from ideas. Penguin Books.
Inglehart, R., & Welzel, C. (2005). Modernization, cultural change, and democracy: The human development sequence. Cambridge University Press.
Jenkins, H. (2006). Convergence culture: Where old and new media collide. New York University Press.
Jenkins, H., Shresthova, S., Gamber-Thompson, L., Kligler-Vilenchik, N., & Zimmerman, A. (2016). By any media necessary: The new youth activism. NYU Press.
Kartodirdjo, S. (1992). Kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan. Gramedia Pustaka Utama.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2023). Laporan tahunan ekonomi kreatif Indonesia 2023. Kemenparekraf.
Latif, Y. (2018). Revolusi Pancasila: Etika, politik, dan kebangsaan. Mizan.
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
Livingstone, S., Van Couvering, E., & Thumim, N. (2014). Digital skills for the 21st century: Research report. UK Government Office for Science.
Mannheim, K. (1952). The problem of generations. Routledge & Kegan Paul.
Mulgan, G. (2007). Social innovation: What it is, why it matters and how it can be accelerated. Oxford University Press.
Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics. Public Affairs.
Parry, R. (2007). Recoding the museum: Digital heritage and the technologies of change. Routledge.
Porter, M. E. (1990). The competitive advantage of nations. Free Press.
Prensky, M. (2001). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5), 1–6.
Rheingold, H. (2012). Net smart: How to thrive online. MIT Press.
Ribble, M. (2015). Digital citizenship in schools: Nine elements all students should know (3rd ed.). International Society for Technology in Education.
Robinson, K. (2011). Out of our minds: The power of being creative. Wiley.
Thomas, J. W. (2000). A review of research on project-based learning. Autodesk Foundation.
Tilaar, H. A. R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan global masa depan dalam transformasi pendidikan nasional. Grasindo.
Tomlinson, J. (1999). Globalization and culture. University of Chicago Press.
UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
Wahab, A. A., & Sapriya. (2011). Teori dan landasan pendidikan kewarganegaraan. Alfabeta.
Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information disorder: Toward an interdisciplinary framework. Council of Europe.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. Public Affairs.