Tasawuf Idrīsiyyah: Estetika, Dzikir, Nafs, Dan Kebangkitan Peradaban
Synopsis
SPESIFIKASI BUKU
Harga : Rp 105.000
Ukuran : 18 cm x 25 cm
Jumlah Halaman : 374 hal
Ketebalan Buku : 1 cm
ISBN : On Proses
Deskripsi Buku : manusia dalam kehidupan tidak lepas dari seni, karena di dalamnya termuat keindahan dan naluri manusia akan hal-hal yang indah1 . Tidak dapat dipungkiri musik merupakan salah satu bentuk kesenian yang paling proaktif dalam mempengaruhi kebudayaan populer di Indonesia. Musik sangat punya andil dalam sendi kehidupan manusia, baik itu sebagai industri, ritual, motivasi, terapi, dan lainlain. Pengaruh musik begitu nyata dalam kehidupan, dengan kata lain musik bisa memberikan inspirasi kepada manusia untuk berlaku positif maupun sebaliknya, tinggal bagaimana musik itu disajikan2 . Dalam tradisi Islam, musik dan seni memiliki peran yang signifikan dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Salah satu bentuk seni yang berkembang dalam dunia tarekat adalah nasyid, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam. Tarekat Idrisiyyah, sebagai salah satu tarekat yang berkembang di dunia Islam, memiliki tradisi nasyid yang khas dengan nilai estetis yang dalam. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji aspek estetika dalam nasyid-nasyid Tarekat Idrisiyyah untuk memahami bagaimana unsur keindahan dalam lirik dan melodi dapat mempengaruhi spiritualitas para pengikut tarekat ini. Menurut Al-Faruqi (1985), musik dalam Islam tidak hanya sekadar hiburan tetapi juga menjadi media pendidikan dan penyampaian nilai-nilai spiritual. Nasyid yang berkembang dalam Tarekat Idrisiyyah memiliki struktur unik yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. mencerminkan ajaran dan pengalaman spiritual para pengikutnya.3 Musik yang digunakan dalam tarekat sufi sering kali memiliki pola berulang yang bertujuan untuk menciptakan keadaan kontemplatif, sehingga memungkinkan jamaah untuk mencapai kondisi spiritual yang lebih dalam.4 Selain itu, elemen lirik dalam nasyid tarekat ini juga dipenuhi dengan nilai-nilai sufistik yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperdalam pengalaman spiritual pengikutnya. Pandangan para sufi terhadap musik dan nasyid bervariasi. Beberapa ulama sufi, seperti Imam Al-Ghazali, menilai musik dan nasyid sebagai sarana yang sah dalam memperdalam spiritualitas jika disajikan dengan niat yang benar dan tidak mengandung unsur yang melalaikan dari ibadah. Al-Ghazali dalam kitab "Ihya Ulumuddin" menyatakan bahwa musik dapat membantu seseorang mencapai kondisi ruhani tertentu, asalkan tidak menimbulkan kecenderungan negatif.5 Ia pernah berkata: “Nyanyian yang baik dapat menambah semangat dan kekhusyukan dalam beribadah, jika memang tidak mengandung sesuatu yang haram.”6 Sufi lainnya, seperti Jalaluddin Rumi, menjadikan musik dan puisi sebagai bagian penting dalam praktik spiritual mereka, sebagaimana tercermin dalam praktik sama', yaitu tarian dan musik sebagai ekspresi cinta kepada Tuhan.7 Ia pernah berkata: “Dengarkan musik dengan hati yang penuh cinta, karena ia dapat membawamu lebih dekat kepada Tuhan.”8 Selain Al-Ghazali dan Rumi, Sufi besar dari Andalusia yaitu Ibn ‘Arabi Al-Hatimi ini membolehkan sama’ (musik dan nyanyian sufi) sebagai bagian dari perjalanan menuju Tuhan. Ia menganggap bahwa musik dapat menjadi sarana bagi para arifin untuk merenungkan kebesaran Ilahi
References
‘Abdul-Qādir al-Jīlānī. (2000). Al-Fatḥ al-Rabbānī fī Madārik al-Anwār wa al-Kashf wa al-Bayān (Cet. 1). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
al-Fāsī, ‘Alī Ḥarāzim. (2011). Jawāhir al-Ma‘ānī wa Bulūgh al-Amānī fī Fayḍ Abī al-‘Abbās al-Tijānī. Beirut: Dār al-Burāq.
Al-Ghazālī. (n.d.). Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Beirut: Dār al-Fikr.
Al-Qusyairī, A. H. (n.d.). Al-Risālah al-Qusyairiyyah. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
al-Sha‘rānī, ‘Abd al-Wahhāb ibn Aḥmad. (2012). Al-Yawāqīt wa al-Jawāhir fī Bayān ‘Aqā’id al-Akābir (Cet. 3). Beirut: Dār Ṣādir.
al-Yamānī, Muḥammad bin Aḥmad. (2007). Majmū‘at Aḥzāb wa Awrād wa Rasā’il al-Imām Sayyid Aḥmad bin Idrīs (Cet. 1). Omdurmān: Majlis Mashāyikh Ṭarīqah Aḥmadiyyah Idrīsiyyah; Kuala Lumpur: SOFA Production.
As-Sarrāj, A. N. (n.d.). Al-Luma’ fī al-Taṣawwuf. Kairo: Dār al-Ma‘ārif.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī. (n.d.). Al-Ḥikam. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Deden Ridwan. (2017). Revitalisasi spiritualitas Islam: Studi atas Tarekat Idrisiyyah di Tasikmalaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
van Bruinessen, M. (1994). Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei historis, geografis dan sosiologis. Bandung: Mizan.
Fathurrahman, M. (2022). Tasawuf berkarakter simpatik. Dalam Dzikir dan fungsinya. Tasikmalaya: Mawahib.
Muḥammad ibn ‘Alī al-Sanūsī. (1988). Al-Silsilah al-Dahabiyyah (Sanūsī transmission series). Khartoum: Majlis Mashāyikh al-Sanūsiyyah.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Ed. revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Patton, M. Q. (2015). Qualitative research & evaluation methods (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Taylor, S. J., Bogdan, R., & DeVault, M. (2016). Introduction to qualitative research methods (4th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2013). Pedoman transliterasi Arab-Latin. Jakarta: Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/U/1987.
Tim Penyusun. (n.d.). Tasawuf simpatik (Dokumen internal Tarekat Idrisiyyah).
Faizuddin, A. (2020). Spiritualitas Islam dan kesehatan mental. Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi Islam, 5(2), 145–163.